Secaraideal Ogburn dan Bekker (dalam Arifin, dkk. 1989:12) merinci ada tujuh fungsi keluarga, yaitu (1) tempat menghasilkan keturunan, (2) perlindungan daN pemeliharaan, (3) pelayanan dan pengolahan hasil produksi ekonomi, (4) sosialisasi, (5) rekreasi, (6) pendidikan untuk anak-anak, dan (7) tempat pemeliharaan kasih sayang.
Jauhsebelum ada lembaga pendidikan yang disebut sekolah, keluarga telah ada sebagai lembaga yang memainkan peran penting dalam pendidikan yakni sebagai peletak dasar. Dalam dan dari keluarga orang mempelajari banyak hal, dimulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menyatakan keinginan dan perasaan, menyampaikan pendapat, bertutur
TranslatePDF. Aktualisasi Pendidikan Islam Dalam Keluarga Oleh : Lukis Alam,SS.,MT.,MSI Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2015 f A. Pendahuluan Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting pada zaman sekarang ini. Karena tanpa melalui pendidikan proses transformasi aktualisasi pengetahuan modern sulit untuk
Pundengan cara menghitung dana darurat yang sudah kamu hafal betul di luar kepala, saking seringnya kamu mendengar gaungan soal ini. Meski begitu, ternyata tak jarang Finansialku menemukan mayoritas orang tua yang salah kaprah menerapkan pengumpulan dana darurat ini. Ternyata, tidak sedikit orang tua yang menganggap bahwa seluruh tabungan yang
TRIBUNMEDAN.COM, MEDAN- Pemko Medan melalui Dinas Pendidikan Kota Medan menggelar kegiatan pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis Information Technologi (IT)bagi guru Pendidikan Usia Dini (PAUD) dan guru Pendidikan Non Formal (PNF) se - Kota Medan di Hotel Madani, Selasa (2/8/2022).. Diharapkan kegiatan ini, dapat mewujudkan Visi dan misi Wali Kota Medan Bobby Nasution khususnya di
BsJKvZ. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam pembentukan pribadi anak yang berkualitas. Di dalam lingkup keluarga, peran orang tua atau anggota keluarga lainnya memiliki dampak yang sangat signifikan dalam membentuk karakter anak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari dan memahami betapa pentingnya pendidikan karakter di lingkungan saya keluarga adalah lingkungan pertama di mana anak memperoleh nilai-nilai, etika, dan perilaku yang mendasar. Orang tua adalah contoh pertama yang dilihat anak, dan mereka berperan sebagai model bagi perilaku dan sikap yang diadopsi oleh anak. Dalam lingkungan keluarga yang hangat dan mendukung, anak dapat belajar tentang kejujuran, kejuangan, kerja keras, empati, dan nilai-nilai lainnya yang penting dalam pembentukan merupakan tempat di mana anak-anak dapat belajar untuk berinteraksi sosial dengan orang lain. Dalam lingkungan keluarga, anak-anak dapat belajar tentang pentingnya kerjasama, saling menghargai, dan komunikasi yang efektif. Melalui interaksi sehari-hari dengan anggota keluarga, anak-anak dapat memperoleh keterampilan sosial yang esensial dalam membentuk karakter yang baik. keluarga pun memiliki peran penting dalam memberikan nilai-nilai moral kepada anak-anak. Dalam lingkungan keluarga yang stabil, anak-anak dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip moral seperti integritas, rasa hormat, tanggung jawab, dan keadilan. Orang tua dapat mengajarkan anak-anak tentang pentingnya bertindak dengan jujur, memegang janji, dan memperlakukan orang lain dengan pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga memerlukan kesadaran dan keterlibatan yang aktif dari orang tua. Orang tua harus menjadi panutan dan memberikan dorongan positif kepada anak-anak dalam pengembangan karakter mereka. Selain itu, komunikasi yang terbuka dan penuh kasih sayang antara anggota keluarga juga sangat penting dalam membangun fondasi yang kuat untuk pendidikan disimpulkan bahwa pendidikan karakter di lingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk pribadi anak yang baik. Keluarga menjadi landasan utama di mana anak-anak memperoleh nilai-nilai, etika, dan perilaku yang mendasar. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam memperkuat pendidikan karakter anak-anak mereka. Dengan melibatkan diri secara aktif dan memberikan contoh yang baik, keluarga dapat menjadi basis yang kuat dalam membentuk karakter anak-anak dan membantu mereka tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab, jujur, dan yang dapat dilakukan orang tua untuk melakukan pendidikan karakter kepada anak dengan cara yang pertama dengan melakukan komunikasi terbuka kepada anak, orang tua dapat memiliki komunikasi yang terbuka dalam keluarga memungkinkan diskusi tentang nilai-nilai moral dan pentingnya pendidikan karakter. Diskusi ini dapat membantu mengklarifikasi nilai-nilai keluarga dan membangun pemahaman kedua dengan mencontohkan perilaku yang baik,orang tua dan anggota keluarga perlu menjadi contoh yang baik dalam perilaku dan tindakan sehari-hari, memperlihatkan nilai-nilai moral yang ingin diajarkan kepada anak-anak. Yang ketiga dengan adanya Pembelajaran melalui cerita dan pengalaman yang dilakukan dengan cerita akan pengalaman, atau contoh kehidupan nyata dapat membantu anak-anak memahami dan menginternalisasi nilai-nilai moral dengan cara yang lebih yang terakhir dengan melakukan pembelajaran berbasis tugas yang dimana orang tua harus memberikan tanggung jawab dan tugas kepada anak-anak dalam lingkungan keluarga dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan seperti tanggung jawab, kerja keras, dan ketekunan. Lihat Lyfe Selengkapnya
Pengertian Pendidikan Keluarga Wawasan Pendidikan. Istilah keluarga dan pendidikan adalah dua istilah yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, di mana ada keluarga di situ ada pendidikan. Di mana ada orang tua di situ ada anak yang merupakan suatu kemestian dalam keluarga. Ketika ada orang tua yang ingin mendidik anaknya, maka pada waktu yang sama ada anak yang menghajatkan pendidikan dari orang tua. Dari sini muncullah istilah “pendidikan keluarga”. Artinya, pendidikan yang berlangsung dalam keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga. Dengan demikian, pendidikan keluarga adalah usaha sadar yang dilakukan orang tua, karena mereka pada umumnya merasa terpanggil secara naluriah untuk membimbing dan mengarahkan, pengendali dan pembimbing direction control and guidance, konservatif mewariskan dan mempertahankan cita-citanya, dan progressive membekali dan mengembangkan pengetahuan nilai dan ketrampilan bagi putra-putri mereka sehingga mampu menghadapi tantangan hidup di masa datang. Selain itu, keluarga juga diharapkan dapat mencetak anak agar mempunyai kepribadian yang nantinya dapat dikembangkan dalam lembaga-lembaga berikutnya, sehingga wewenang lembaga-lembaga tersebut tidak diperkenankan mengubah apa yang telah dimilikinya, tetapi cukup dengan mengkombinasikan antara pendidikan keluarga dengan pendidikan lembaga tersebut, sehingga masjid, pondok pesantren, dan sekolah merupakan tempat peralihan dari pendidikan keluarga. Namun demikian, orang tua perlu bekerja sama dengan pusat pendidikan tempat mengamanatkan pendidikan anaknya, seperti belajar di madrasah dan pesantren. Tujuannya adalah tetap memantau setiap perkembangan pendidikan anak dan tidak melepaskan tanggungjawab. Hal itu merupakan bentuk tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya apabila ia sendiri merasa tidak mampu untuk memberikan pendidikan yang dibutuhkan anaknya. Pada posisi ini fungsi dan peran madrasah, pesantren, di pusat pendidikan lainnya hanya membantu kelanjutan pendidikan yang telah dimulai dalam keluarga. Artinya, bahwa tanggung jawab pendidikan anak pada akhirnya kembali kepada orang tua juga. Hal itu dikarenakan orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Bagi anak, orang tua adalah model yang harus ditiru dan diteladani. Sebagai model, orang tua seharusnya memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam keluarga. Sikap dan perilaku orang tua harus mencerminkan akhlak yang mulia. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan sesuatu yang baik-baik saja kepada anak mereka. Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama dalam pendidikan Islam. Karena dengan budi pekerti itulah tercermin pribadi yang mulia. Sedangkan pribadi yang mulia itu adalah pribadi yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik anak dalam keluarga. Namun sayangnya, tidak semua orang tua dapat melakukannya. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, misalnya orang tua yang sibuk dan bekerja keras siang malam dalam hidupnya untuk memenuhi kebutuhan materi anakanaknya, waktunya dihabiskan di luar rumah, jauh dari keluarga, tidak sempat mengawasi perkembangan anaknya, dan bahkan tidak punya waktu untuk memberikan bimbingan, sehingga pendidikan akhlak bagi anak-anaknya terabaikan. Dalam kasuistik tertentu sering ditemukan sikap dan perilaku orang tua yang keliru dalam memperlakukan anak. Misalnya, orang tua membiarkan anak-anaknya nongkrong di jalan dan begadang hingga larut malam. Mereka menghabiskan waktunya hanya untuk bermain atau guyon, mengejek satu sama lain, dan saling berlomba melempar kata-kata kotor. Padahal semestinya waktu-waktu tersebut bisa dimanfaatkan oleh orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk mengaji Al-Qur’an di rumah. Meski orang tua memiliki kemampuan yang kurang baik dalam membaca Al-Qur’an, tetapi upaya orang tua itu dapat mempersempit ruang gerak anak untuk hal-hal yang kurang baik dalam pandangan agama. Dalam keluarga yang broken home sering ditemukan seorang anak yang kehilangan keteladanan. Orang tua yang diharapkan oleh anaknya sebagai teladan, ternyata belum mampu memperlihatkan sikap dan perilaku yang baik. Akhirnya anak kecewa terhadap orang tuanya. Anak merasa resah dan gelisah. Mereka tidak betah tinggal di rumah. Keteduhan dan ketenangan merupakan hal yang langka bagi anak. Hilangnya keteladanan dari orang tua yang dirasakan anak memberikan peluang bagi anak untuk mencari figur yang lain sebagai tumpuan harapan untuk berbagi perasaan dalam duka dan lara. Di luar rumah, anak mencari teman yang dianggapnya dapat memahami dirinya; perasaan dan keinginannya. Kegoncangan jiwa anak ini tidak jarang dimanfaatkan oleh anak-anak nakal untuk menyeretnya ke dalam sikap dan perilaku jahiliyah. Sebagian besar kelompok mereka tidak hanya sering mengganggu ketenangan orang lain seperti melakukan pencurian atau perkelahian, tetapi juga tidak sedikit yang terlibat dalam penggunaan obat-obat terlarang atau narkoba. Pergi ke tempat-tempat hiburan merupakan kebiasaan mereka. Menggoda wanita muda atau pergi ke tempat prostitusi adalah hal yang biasa dalam pandangan mereka. Sikap dan perilaku anak yang asosial dan amoral seperti di atas tidak bisa dialamatkan kepada keluarga miskin, bisa saja datang dari keluarga kaya. Di kotakota besar misalnya, sikap dan perilaku anak yang asosial dan amoral justru datang dari keluarga kaya yang memiliki kerawanan hubungan dalam keluarga. Ayah, ibu dan anak sangat jarang bertemu dalam rumah. Ayah atau ibu sibuk dengan tugas mereka masing-masing, tidak mau tahu kehidupan anak. Kesunyian rumah memberikan peluang bagi anak untuk pergi mencari tempat-tempat lain atau apa saja yang dapat memberikan keteduhan dan ketenangan dalam kegalauan batin. Akhirnya, apa pun alasannya, mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua dalam keluarga. Oleh karena itu, sesibuk apa pun pekerjaan yang harus diselesaikan, meluangkan waktu demi pendidikan anak adalah lebih baik. Bukankah orang tua yang bijaksana adalah orang tua yang lebih mendahulukan pendidikan anak daripada mengurusi pekerjaan siang dan malam. Sumber UIN Walisongo Faisal Nurhidayat
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pendidikan informal yang biasa juga disebut dengan nama pendidikan keluarga, dimana pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pedidikan pertama dan utama dalam perkembangan karakter anak. Menurut Selo Soemarjan, keluarga adalah sebagai kelompok inti, sebab keluarga adalah masyarakat pendidikan pertama dan bersifat orangtua pasti menginginkan anaknya memiliki karakter dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-harinya. Harapan dan keinginan dari orangtua sering kali tidak diiringi dengan tindakan dan usaha dalam membangun karakter anak ke arah yang diharapkan atau yang diinginkan. Sedangkan setiap orang anak membutuhkan bimbingan dan arahan dari orangtua dalam setiap aktivitas yang dikerjakan Tarakiawan 2001, pendidikan yang mungkin terjadi di dalam keluarga, yaitu pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan intelektual, pendidikan psikis, pendidikan sosial, dan pendidikan seksual. Menurut Abdullah Nashih Ulwan 2001, metode-metode didalam pendidikan keluarga yang banyak berpengaruh terhadap anak, terdiri dari pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan adat kebiasaan, pendidikan dengan nasihat, pendidikan dengan pengawasan, dan pendidikan dengan hukuman sanksi. Di dalam kehidupan sehari-hari, perilaku yang dilakukan anak lebih banyak diperoleh dari meniru. Saat orangtua melakukan ibadah sholat, baik disengaja maupun tidak disengaja, anak akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Apa yang anak tersebut lakukan adalah sebagai hasil dari melihat perbuatan orangtuanya. Sifat peniru yang telah dimiliki anak merupakan salah satu modal positif dan potensial dalam pendidikan terhadap anak. Jika didalam keluarga anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik, maka anak tersebut juga akan berkarakter baik dalam tahapan selanjutnya. Hal ini merupakan bukti bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan anak dimasa saat ini dan di masa mendatang. Lihat Pendidikan Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Lina HandayaniMahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UNISNU Jepara Pendidikan keluarga dipandang sebagai pendidikan pertama dan utama. Dikatakan pendidikan pertama karena bayi atau anak itu pertama kali berkenalan dengan lingkungan serta mendapat pembinaan pada keluarga. Pendidikan pertama ini dapat dipandang sebagai peletak fondasi pengembangan-pengembangan berikutnya. Pendidik perlu bertindak secara hati-hati pada pendidikan pertama ini. Kalau tidak, bisa memberikan dampak yang kurang baik pada perkembangan-perkembangan sifat pekanya perkembangan-perkembangan pada awal ini membuat pendidikan ini dikatakan sebagai pendidikan yang utama. Kepekaan perkembangan-perkembangan awal ini tidak hanya menyangkut psikologi, tetapi juga fisiologi. Dengan kata lain pertumbuhan jasmani pada fase-fase awal ini juga sangat peka. Memang pertumbuhan jasmani dan perkembangan jiwa anak-anak berkaitan satu dengan yang lain. Kalau dalam kedokteran ada dalil yang mengatakan kualitas makanan yang diberikan kepada anak balita akan menentukan kualitas kecerdasan atau kemampuan mereka kelak, maka dalam pendidikan ada konsep yang mengatakan bagaimana perlakuan terhadap anak 4 tahun ke bawah seperti itulah jadinya anak itu setelah dewasa. Dari dalil itu muncul himbauan agar keluarga member makanan bergizi kepada anak balita agar otaknya tumbuh dengan sempurna. Begitu pula konsep di atas membuat para orang tua memperlakukan anak-anak kecil itu dengan baik, penuh kasih saying agar anak itu menjadi orang yang berguna kelak. Namun informasi yang diterima oleh orang tua berat sebelah. Informasi tentang pentingnya memberikan makanan bergizi kepada balita lebih banyak diterima dibandingkan dengan informasi tentang pentingnya memperlakukan anak-anak dengan baik. Buktinya kini semakin banyak anak sehat dan cerdas, tetapi masih banyak sekali anak-anak nakal yang membuat berbagai kerusuhan. Kenakalan ini sebagian besar disebabkan oleh perlakuan lingkungan yang tidak benar, antara lain terlalu keras atau disiplin kaku, kurang diperhatikan, kurang kasih sayang, terlalu diberi kebebasan, dan di atas tampaknya bertalian dengan kurang intensifnya pengembangan pendidikan keluarga itu sendiri. Pendidikan keluarga, memang belum ditangani seperti pada pendidikan jalur sekolah. Sehingga masuk akal kalau sebagian besar keluarga tidak paham tentang cara mendidik anak-anak dengan benar. Walaupun isi pendidikan itu sebagian besar ditekankan pada pengembangan afeksi, seperti kerajinan, kejujuran, kesetiaan, toleransi, disiplin, gotong royong, keimanan, ketakwaan, menghormati orang tua, bisa berterima kasih, suka menolong, dan sebagainya. 1 2 3 Lihat Humaniora Selengkapnya
ANGGI AFRIANSYAH, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan BRIN Ki Hadjar Dewantara 2013 menyebut tiga arena penting pendidikan yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pemuda. Dalam pandangan KHD di dalam paparannya mengenai pendidikan keluarga disampaikan beberapa pesan penting yang masih relevan hingga kini. Pertama, anak-anak harus dibesarkan dalam suasana penuh cinta kasih. Dalam suasana cinta kasih, menurut KHD, hilanglah rasa murka, egoisme, dan hadir perasaan ikhlas. Dalam pandangannya, limpahan cinta kasih sangat berfaedah pada pendidikan kebatinan. Kesucian, keridhaan, keikhlasan dari orang tua menjadi pendidikan bagi anak sebab mereka akan merasakan rasa mengenai kewajiban, perhatian, dan rasa cinta kasih. Kedua, pendidikan tak boleh hanya disandarkan pada sekolah. Anak-anak harus mendapat kesempatan yang banyak berkumpul bersama keluarga. Pertama, anak-anak harus dibesarkan dalam suasana penuh cinta kasih. Ketiga, pendidikan keluarga menjadi penting untuk mendidik budi pekerti. Dalam pandangan KHD, suatu kesalahan ketika orang tua sepenuhnya menyerahkan berbagai hal ke sekolah. Ia menyebut pendidikan budi pekerti tidak bisa dilakukan sambil lalu. KHD menyebut, alam keluarga yang terpenting untuk pendidikan anak. Ilmu parenting ala KHD tampaknya perlu mendapat perhatian ekstra dari pengambil kebijakan maupun orang tua. Di era industrialisasi, terjadi pembagian peran signifikan yang dilakukan oleh sekolah untuk mendidik, alam keluarga menjadi cenderung dipinggirkan dalam proses pendidikan. Di masa pandemi awal, semua kembali kepada keluarga sebab sekolah ditutup. Orang tua berjibaku mendidik anak di rumah. Orang dewasa di rumah, aktif membantu pengerjaan tugas juga perkara teknis agar pembelajaran optimal. Ini terjadi saat orang tua memiliki pemahaman memadai tentang materi, teknis pembelajaran, dan keluangan waktu. Orang tua berjibaku mendidik anak di rumah. Orang dewasa di rumah, aktif membantu pengerjaan tugas juga perkara teknis agar pembelajaran optimal. Ada keluarga yang mendapat berkah terselubung di masa pandemi. Akibat perjumpaan intensif di rumah, ikatan di antara anggota keluarga erat. Ada banyak obrolan, menemani anak belajar, juga aktivitas menyenangkan lainnya. Antaranggota keluarga lebih saling memahami. Namun, ini tak dinikmati banyak keluarga. Ada keluarga yang meski bekerja dari rumah tetapi punya beban ekstra menyelesaikan pekerjaan. Sehingga anak-anak justru tidak terperhatikan meski mereka selalu bersama di rumah. Paling menderita, tentu mereka yang marginal. Orang tua mereka mendapat PHK, lapak berjualan harus ditutup karena minim pelanggan, pemotongan gaji, dan tertimpa hal buruk lain. Untuk tetap bertahan, mereka melakukan apa pun. Sudah jelas, anak-anak di rumah tak mendapatkan pendampingan memadai. Dukungan untuk keluarga Ketika seseorang memutuskan menikah maka pemahaman mengenai dunia pernikahan yang kompleks dan menuntut tanggung jawab perlu menjadi perhatian. Ketika pasangan memutuskan memiliki anak, harus memiliki kesadaran besar merawat dan mendidik anak-anak. Ketika seseorang memutuskan menikah maka pemahaman mengenai dunia pernikahan yang kompleks dan menuntut tanggung jawab perlu menjadi perhatian. Maka, meski berkeluarga sangat personal, pemerintah perlu lebih memberi dukungan terhadap proses terbentuknya keluarga yang solid. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan keluarga menjadi lebih mendesak. Tentu bukan dengan membuat aturan yang merumitkan pengelolaan keluarga. Pada 2015 Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kemendikbud merilis buku “Roadmap Pendidikan Keluarga Edisi Revisi”. Pada buku tersebut dipaparkan pentingnya kemitraan orang tua, kurikulum pendidikan keluarga, mekanisme pengembangan kemitraan orang tua dan satuan pendidikan, dan laman pendidikan keluarga yang dapat diakses masyarakat. Buku ini memaparkan upaya pemerintah membangun pendidikan di level keluarga. Namun catatan yang penting diperhatikan, desain yang dibangun ada pada ruang pendidikan keluarga yang ideal. Padahal saat ini terdapat ragam kompleksitas saat bicara tentang fakta keluarga. Pada posisi tersebut, situasinya lebih problematis. Orang tua tunggal dan anak-anak yang dibesarkan butuh dukungan dari orang di sekitarnya. Tidak semua keluarga harmonis dan dalam keadaan ideal untuk mendidik anak. Dalam banyak kasus, orang tua tunggal terutama perempuan mendapat stigma buruk saat memutuskan berjuang mendidik anak seorang diri. Pada posisi tersebut, situasinya lebih problematis. Orang tua tunggal dan anak-anak yang dibesarkan butuh dukungan dari orang di sekitarnya. Anak-anak yang terdidik baik mendapatkan pengasuhan di berbagai ruang pendidikan dengan baik. Tidak hanya itu, terpenuhinya kebutuhan dasar seperti sandang, papan, pangan bagi anak-anak, menjadi bagian yang tak bisa ditawar. Kembali menengok pendidikan keluarga adalah ikhtiar penting dalam mendidik anak-anak Indonesia.
pendidikan keluarga disebut juga pendidikan